Jumat, 04 Januari 2013

Seni Project Tobong

Potret Pemain Ketoprak di Luar Tobong
 
Selamatkan ketoprak tobong/pitogoestin 04012013
 MENONTON pemain ketoprak tobong beratraksi di atas panggung, tentu sudah biasa. Kostumnya lengkap menggambarkan tokoh yang diperankan. Riasan wajahnya pun tebal biar bisa dilihat penonton dari kejauhan. Pun saat melihat mereka lalu lalang di seputaran lokasi panggung, suatu hal yang biasa. Sama juga saat melihat mereka merias diri, bersendau gurau, atau makan nasi bungkus usai bermain.
 
Namun jika melihat pemain ketoprak lengkap dengan kostum, asesoris, dan make-up tebal membawa setumpuk bata merah di lokasi pembangunan gedung, tentu menggelitik orang untuk bertanya. Atau tiba-tiba nongol di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Atau nongkrong bareng di depan gerbong kereta barang pengangkut bersak-sak semen. Juga si pemain membentangkan tali busur panah bukan di atas panggung, melainkan di atas tanah lapang dengan pesawat terbang yang tengah melintas di atasnya sebagai sasarannya.
 
Terlihat lucu dan aneh. Itu kesan pertama saat melihat pemain ketoprak tobong tidak pada habitatnya. Namun itulah kesengajaan yang ditampilkan duo fotografer berbeda latar belakang negara dan sosial, Helen Marshall dan Risang Yuwono. Helen, seniman fotografer asal Inggris yang mengusung gaya fotografi kontemporer. Risang, fotografer putera dari Dwi Tartiyasa yang mengelola ketoprak tobong yang masih eksis di Kalasan, kabupaten Sleman, DIY yang diberi nama “Kelana Bakti Budaya”. Keduanya bertemu dalam aktivitas fotografi untuk menggarap Project Tobong yang didukung Arts Council England dan British Council dan diorganisir oleh Indonesia Contemporary Art Network (iCAN).
 
“Helen memang menonjolkan teknik displacement, yaitu mengganti ruang atau habitat yang sebenarnya,” kata asisten Helen, Vinka Parhun kepada Tempo, Jumat (4/1).
 
Alasannya adalah ketertarikan Helen pada kehidupan pemain ketoprak tobong yang berpindah-pindah alias nomaden. Di sisi lain, ketoprak tobong adalah salah satu seni tradisi yang masih ada di Indonesia meskipun kondisinya kritis karena nyaris terkikis habis. Kelana Bakti Budaya adalah salah satu komunitas ketoprak tobong yang masih bertahan.
 
“Helen ingin memotret mereka di luar komunitasnya,” kata Vinka.
 
Risang pun mengamini. Bahwa konsep displacement tersebut merupakan antiklise untuk membongkar ambiguitas pemain ketoprak tobong. Sehingga yang diperoleh adalah potret pemain dalam situasi di luar yang biasa dihadapi keseharian.
 
“Ini refleksi kami, bagaimana menggunjingkan tradisi di tengah kondisi zaman yang terus berkembang,” kata Risang kepada Tempo.
 
Saat Tempo menyambangi iCAN di Jalan Suryodiningratan, Jumat (4/1) tempat keduanya memajang karya fotografinya dari 28 Desember 2012 hingga 22 Januari mendatang, tempat itu lengang. Baik Risang dan Helen tak ada di tempat. Menurut Manajer iCAN, Nala Nandana, Helen kembali ke London untuk memperpanjang visa.
 
Action di SPBU/pitogoestin 040112013
 Hanya belasan foto yang dipajang pada setiap sisi dinding di iCAN. Ruangan yang terlampau luas itu pun dilengkapi dengan pajangan perkakas milik para pemain ketoprak tobong yang terlihat tua, kuno, dan using di bagian tengah lantai yang tampak seperti karya instalasi. Ada amben (tempat tidur kecil) yang muat satu orang dengan sprei warna merah. Benda memanjang itu diapit televisi 12 inchi dan radio kuno dari kayu yang sudah berkarat komponen elektriknya. Ada pula bangku warna hijau yang terdapat noda merah laiknya darah.
 
“Itu bangku yang dipakai saat komunitas ketoprak kami saat main di keraton dengan judul Pamit Mati pada 2010,” kata Risang.
 
Pada pagian pojok timur laut ruangan terdapat sekat dari papan dan anyaman bambu yang sudah bolong. Ruangan itu disebut Risang sebagai ruang arsip. Lantaran ada meja dengan tumpukan foto-foto mereka akan aktivitas pemain ketoprak. Juga foto copy kliping koran yang memberitakan pasang surut Kelana Bakti Budaya. Tak ketinggalan sebuah poster besar dengan latar berwarna merah menyala buatan Andre Anti Tank. Poster itu bergambar seorang raja yang duduk merenungi perubahan zaman yang begitu cepat. Sedangkan di sisi kiri atas sang raja menggelantung gambar tali gantungan. Pajangan-pajangan karya-karya itu kian menegaskan kedua fotografer itu, bahwa mereka berangkat dari gagasan yang sama, bahwa seni tradisi ketoprak tobong harus tetap dipertahankan.
 
“Berbeda dengan seniman lain yang menghabiskan staminanya untuk mengeksplorasi karya seninya. Tapi kami menghabiskan untuk mengkonservasi ketoprak tobong,” kata Risang.
 
Proses konservasi seni tradisi ketoprak itu pun mereka lakukan melalui fotografi. Konservasi bangunan tobong, kamar mandi pemain ketoprak, hingga konservasi pemainnya. Risang pun mengakui, bahwa foto adalah pintu masuk bagi komunitas ketoprak tobong kepada masyarakat baru.
 
Pertemuan Risang dan Helen berawal di Toraja sekitar 2-3 tahun lalu. Keduanya mengawali dengan melakukan kolaborasi proyek tentang Toraja pada awal 2011. Kemudian pada akhir 2011 mereka bertemu kembali dan menggarap proyek Tobong tersebut pada pertengahan 2012.
 
“Kebetulan Helen tertarik mengeksplorasi kerja seni secara partisipatoris, yakni melibatkan banyak orang,” kata Risang kepada Tempo.
 
Ketertarikan Helen pada seni tradisi yang masih bertahan yang tak dijumpai di negerinya itu kian memperkuat keinginannya untuk menggarap proyek. Khususnya dengan peran partisipatoris, yakni melibatkan 20 pemain ketoprak tobong yang juga tengah menjalani proses konservasi untuk bisa bertahan. Antara lain melalui fotografi. PITO AGUSTIN RUDIANA

Selasa, 01 Januari 2013

Seni Peaceful in Faith #2

Pengejawantahan Ayat Suci dalam Lukisan
 
Hikayat Bahtera Nuh/pitogoestin 02012013
 Sepintas hanya gelondongan batang pohon tua. Ada lubang di sana sini. Terlihat rapuh dan lapuk. Namun gelondongan kayu itu membentuk laksana sebuah kapal tua yang besar, memanjang, dan tak utuh lagi. Badan kapal itu terdampar pada bebatuan yang surut airnya. Aneka jenis binatang berjalan beriringan melintasi perbukitan dari segala penjuru untuk menuju ke arah kapal tersebut. Itulah kapal Nabi Nuh yang dalam kisah kenabiannya mampu menyelamatkan binatang dan pengikutnya yang mau beriman kepada Allah SWT dari air bah. Perupa Hendra Buana memberinya judul “Hikayat Bahtera Nuh” yang dilukis dengan cat akrilik.
 
Tak cukup puas dengan menyajikan kisah bahtera Nabi Nuh dalam dua lukisan yang berbeda, Hendra kembali mengkesplorasi kisah kenabian lainnya. Ada kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis yang dilukis terpisah pada kanvas yang berbeda. Kisah nabi yang dikaruniai mukjizat berupa kemampuan berkomunikasi dengan binatang. Juga Ratu Balqis yang jelita dengan mengenakan hijab yang menutupi rambut hingga dadanya. Hendra melukisnya dengan judul “Ratu Balqis dalam Fantasi”.
 
“Ini yang membedakan karya saya dengan sebelumnya. Bukan lukisan kaligrafi, tapi lanskap yang saya beri sentuhan ayat suci,” kata Hendra kepada Tempo di Jogja Gallery, Rabu (2/1).
 
Hendra tak membantah, jika selama ini pelukis kelahiran Bukittinggi pada 59 tahun lalu itu dijuluki pelukis kaligrafi. Lantaran Hendra terbiasa bermain-main dengan ayat-ayat suci Al Quran untuk ditorehkan dalam kanvas dalam bentuk kaligrafi. Namun kini Hendra memunculkan bentuk lain. Meski tetap sama dengan bermain ayat suci, namun mengejawantahkan dengan bentuk yang berbeda berupa lukisan panaroma. Muaranya sama, yakni dari ayat-ayat suci Al Quran.
 
“Kalau kaligrafi jelas, itu pasti ada kesan religinya. Kalau lanskap itu diberi sentuhan ayat sehingga ada kesan religi,” kata Hendra.
 
Dalam pameran tunggalnya kali ini, Hendra banyak mengeksplorasi karya-karyanya yang lahir dari kepiawaiannya mengejawantahkan ayat dalam lanskap. Sebanyak 48 karya yang ditampilkannya di lantai I dan II Jogja Gallery itu berawal dari pengejawantahan atas Surat Al Hujurat ayat 13. Ayat surat itu berisi pesan, bahwa Tuhan telah menciptakan manusia bersuku-suku bangsa, untuk mengenal satu sama lain. Dan orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang bertaqwa. Hendra pun memberi tema Peaceful in Faith #2 dalam pameran tunggalnya kali ini yang digelar sejak 20 Desember 2012 hingga 9 Januari mendatang.
 
“Lanskapnya saya ambil dari kisah-kisah para nabi tentang perdamaian. Ayat itu mengajak kita untuk berdamai dan menghargai perbedaan,” kata Hendra.
 
Meskipun Hendra mulai berpaling pada lanskap, namun tak sepenuhnya menanggalkan kaligrafi. Bait-bait huruf Arab dari cukilan ayat masih disematkan pada beberapa lukisannya. Namun keberadaannya hanya sebagai pelengkap dari lukisan panorama yang lebih dominan.
 
“Soal saya masuk aliran apa, itu terserah penilaian public. Saya enggak melepaskan kaligrafi. Bagaimana pun karya saya total religius,” kata Hendra tegas.
 
Gerindra/pitogoestin 02012013
 Ada sebuah lukisan yang menggelitik di antara karya-karya rupa lainnya yang ditampilkannya. Sebuah lukisan tentang panorama gunung Merapi usai diterjang erupsi 2010 lalu. Ada gunung dan aktivitas penambangan pasir yang dilukiskan dengan truk-truk pengangkut pasir di kawasan sungai di sisi lembah. Namun susunan enam buah huruf yang membentuk tulisan GERINDRA muncul di puncak bukit. Seekor burung Garuda terbang dengan kedua sayapnya yang panjang di atasnya.
 
“Sebenarnya tulisan itu tak ada di sana. Tapi karena Prabowo adalah tokoh idola saya, maka itu cara saya agar lukisan itu bisa sampai kepadanya,” kata Hendra yang memasang harga hingga Rp 290 juta untuk lukisan-lukisan yang dipajangnya itu.
 
Ya, lantaran yang meresmikan pembukaan pameran tunggalnya adalah adik sang tokoh idola, yakni Hashim Djojohadikusumo. Melalui si adik, Hendra berharap lukisan itu sampai kepada si kakak. Rupanya tak hanya Hashim yang pernah membuka pameran tunggalnya. Beberapa deretan nama tokoh nasional pernah didaulat untuk membuka pameran tunggalnya. Ada Mufidah Jusuf Kalla (istri mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla) pada 2005, mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pada 2006, dan mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim pada 2011.
 
Kurator seni rupa Kuss Indarto menilai Hendra masih meneguhkan identitas dirinya sebagai perupa kaligrafi Islam. Meskipun resikonya, Hendra seolah dipenjara atas gerak kreatifnya dengan label itu. Bahwa jika Hendra tak melukis kaligrafi, maka itu bukanlah Hendra sesungguhnya. Sehingga kembalinya Hendra dengan lanskap-lanskap religinya justru menjadi pengingkaran atas identitas selama ini yang melekat padanya.
 
“Hendra ingin keluar dari kutukan identifikasi publik itu,” kata Kuss.
 
Tak hanya soal corak melukis. Pengingkarannya kali ini juga menjadi petunjuk, bahwa karya-karyanya akan muncul dengan ukuran yang lebih besar. sebut saja karya lukisan yang turut dipajang dalam pameran kali ini yang mencapai panjang 16,30 meter. Lukisan itu terdiri dari delapan kanvas yang disusun menjadi satu kesatuan tema kolosal tentang perdamaian dunia. PITO AGUSTIN RUDIANA

Kamis, 27 Desember 2012

Seni Panen Terakhir

Karya Tiga Dimensi Penolak Panen Terakhir

foto: pitogoestin
SAMBADI, 75 tahun terlihat hilir mudik dengan sebilah sabit di tangan kanannya. Lelaki tua yang telah puluhan tahun tinggal di dusun Jeblog, kecamatan Kasihan, kabupaten Bantul itu tengah memantau pengairan beberapa petak sawah yang menjadi tanggung jawabnya. Yang pasti, bukan petak sawah miliknya.
 “Sudah saya jual untuk berobat, untuk bangun rumah. Ya, baru tahun ini saya benar-benar enggak punya sawah,” kata Sambadi saat ditemui Tempo di tepi sawah, Rabu (3/10/2012).
 Ada kerinduan Sambadi akan petak-petak sawahnya yang satu per satu hilang. Dia berharap kelak bisa memilikinya lagi. Meski harapan itu sangat tipis mengingat petak-petak sawah di dusun itu banyak yang berbuah menjadi dinding-dinding beton perumahan. Padahal, Sambadi sejak kelas II Sekolah Dasar sudah biasa membantu ayahnya membajak di sawah. Saat tak sekolah, biasa berangkat ke sawah kala pagi buta dan pulang saat petang. Tengah hari menjadi waktu yang dinanti karena menunggu kiriman makanan dari ibunya sembari duduk di gubuk-gubuk bambu yang ada di tengah sawah. Gubuk bambu itu juga menjadi tempat petani untuk menghalau burung-burung pemakan bulir-bulir padi.
 “Sekarang sudah tidak ada gubuk-gubuk bambu di tengah sawah. Orang malas berlama-lama di sawah,” kata Sambadi.
 Banyak petani masa kini yang datang kala matahari sudah terbit dan segera pulang saat jarum jam menunjuk pukul 11 siang.
foto: pitogoestin
 Kegundahan Sambadi, dan beberapa petani tua beberapa zaman itu ditangkap sejumlah seniman seni rupa tiga dimensi yang tergabung dalam Komunitas Garda Matra yang lahir di dusun itu. Mereka pun memotret kegelisahan petani, masa depan persawahan, dan alam sekitarnya melalui karya-karya tiga dimensi. Mereka mempersiapkan 10 karya tiga dimensi berupa patung dan instalasi dalam waktu satu bulan, termasuk menggagas temanya. Jadilah perhelatan “Panen Terakhir” yang ditampilkan di tengah areah persawahan di dusun Jeblog dan Nitiprayan sedari 27 September hingga penghujung 2012 mendatang.
 “Dengan panen terakhir, kami berharap tak ada panen terakhir. Karena ini memang potret realitas pertanian di pinggiran kota,” kata Budi Barnabas, selaku ketua panitia sekaligus perupa di bengkel seninya yang juga di tengah sawah.
 Budi berharap, karya-karya instalasi yang ditampilkan secara terbuka kepada public itu bisa mengobati kerinduan alam hijau pada masa lalu. Meskipun beberapa karya yang ditampilkan terlihat getir.
 Sebut saja karya Budi sendiri yang diberi judul “Kebo Ketaton”. Karya yang menampilkan seekor kerbau yang berdiri mengangkang dengan kepala tertunduk. Tubuhnya tanpa daging, tinggal tulang kerangka. Binatang pembajak sawah itu dibiarkan sendirian di sebuah petak di tengah sawah di Jeblog.
 “Kerbau itu simbol keputusasaan,” kata Budi.
Putus asa, lantaran kerbau yang berperan sebagai pembajak sawah tergusur keberadaannya oleh mesin-mesin traktor yang lebih kokoh dan kuat. Serasa ada luka luar dalam, demikian Budi menggambarkan binatang perkasanya yang kini tak berdaya dengan modernisasi.
 Keresahan pun melanda Kenyung Suranto yang membuat instalasi berjudul “Kendi Borot”. Laiknya kendi atau bejana penyimpan air yang dalam karya instalasi itu juga terbuat dari tanah liat. Kendi besar, penampung air, dipajang di tengah sawah, namun kosong lantaran berlubang. Bagi Kenyung, kendi diibaratkannya sebagai bumi penyimpan air. Namun kala tanah di atasnya lebih banyak dihuni perumahan dan bangunan-bangunan industry, tak pelak lagi air semakin minim untuk berada di resapan air.
 “Yang terjadi kemudian krisis air kan,” kata Kenyung.
foto: pitogoestin
Karya-karya tiga dimensi itu akan terus bertambah. Sudah ada antrean 10 karya dan ditambah tujuh karya pada Desember nanti. Konsep memajang karya di tengah alam rupanya menjadi daya tarik seniman lainnya untuk tampil serta. Karya-karya lama yang masih nagus akan tetap dipertahankan untuk dipajang. Kemudian karya-karya baru akan melengkapi. Meskipun untuk tampil di panggung persawahan, Budi mesti melakukan pendekatan sosial kepada warga pemilik sawah. Termasuk pemberian uang ganti rugi lantaran petak sawahnya disewa sebagai tempat pajangan.
 “Modelnya gotong royong dan warga tak keberatan. Bahkan inginnya tahun depan ada lagi,” kata Budi. PITO AGUSTIN RUDIANA

Seni mateREALITY

Mengembalikan Kenangan Kayu Anusapati
 
foto: pitogoestin
 Sebuah rel kereta api menempel pada dinding belakang Sangkring Art Space yang tinggi menjulang di Nitiprayan, kabupaten Bantul, Rabu (21/11/2012). Bentuk rel itu melengkung membentuk setengah huruf U dari sisi dinding bawah melengkung ke atas. Keunikannya, meskipun kerangka rel menggunakan besi rel yang tebal, namun bantalan rel menggunakan kayu. Dari struktur kayunya pun terlihat usang. Alur rel itu berhenti pada sebuah kotak kayu pula yang terbuka pintu lorongnya.
 “Itu bantalan kereta lama. Zaman dulu kan, pakai kayu. Untung masih ada yang jual,” kata pematung Anusapati yang menggeber karyanya dalam pameran tunggal di Sangkring Art Space tersebut.
 Anusapati mengembalikan kayu yang semula menjadi bantalan kereta menjadi bantalan kereta kembali. Tak hanya itu. Kayu-kayu tua bekas bantalan kereta itu disulapnya menjadi benda-benda menyerupai atap rumah juga seperti ujung pensil dengan diameter yang luas.
 Anusapati yang terbiasa bermain-main dengan kayu itu pun kembali mengapresiakan benda dari tumbuhan hidup itu dalam karyanya. Hanya saja dalam pameran bertajuk “mateREALITY” yang berlangsung dari 13 November-8 Desember itu, Anusapati ingin menampilkan sesuatu yang berbeda. Lewat karya patung, instalasi, dan lukisan dari usapan arang, Anusapati ingin mengajak publik untuk kembali dekat dengan benda yang disebut dengan kayu itu. Kayu sebagai material, bukan pada bentuk lagi.
 “Karena kayu itu material yang paling akrab dengan manusia sejak zaman dulu,” kata Anusapati saat dihubungi Tempo, Rabu (21/11) lalu.
 
foto: pitogoestin
 Perkembangannya, kayu pun menjadi komoditi massal. Seiring dengan perilaku dan gaya hidup manusia yang kian konsumtif akan kayu. Dan Anusapati ingin kembali mendekatkan manusia pada kayu. Ingin mengajak untuk mengenang masa lalu bagaimana sangat berartinya kayu untuk kehidupan manusia.
Untuk mewujudkan tujuannya, Anusapati mulai menyentil lewat karya-karyanya yang serba berukuran raksasa itu. Seperti karya berjudul “Going back in time” yang berupa potongan kayu dari pohon munggur dengan tinggi 4 meter dan diameter 225 centimeter. Batang pohon munggur itu dibelah menjadi empat bagian. Seolah Anusapati ingin mempertontonkan ujud sebuah kayu seutuhnya sebelum berubah menjadi barang konsumtif manusia.
 “Orang kan, sekarang suka perabot seperti meja yang gedhe-gedhe dari kayu munggur. Padahal itu pohon peneduh,” kata Anusapati.
foto: pitogoestin
   Begitu pun karya raksasa berupa pohon durian sepanjang 15 meter. Pohon yang masih lengkap dengan cabang dan rantingnya itu dibelah dalam posisi berbaring di atas lantai ruang pameran. Di sinilah Anusapati menunjukkan kepiawaiannya membuat karya instalasi. Batang kayu tanpa daun itu dipotong beberapa bagian. Pada bagian pangkal yang mempunyai diameter lebih lebar, Anusapati membelah bagian dalam kayu menjadi balok-balok kayu yang siap untuk bahan bangunan. Uniknya, potongan-potongan itu kemudian disatukannya dengan mengikatnya menggunakan baut panjang dan tali kawat yang kuat yang diikatkan pada langit-langit ruangan.
 “Satu hal, saya enggak menebang pohon untuk karya-karya saya. Tapi itu pohon durian yang sudah mati di sekitar terminal Giwangan. Kalau tidak ya beli kayu di toko bangunan,” kata Anusapati dengan nada serius.
 Bekas mahasiswanya di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Rosyid Mulyadi, kekhasan karya Anusapati adalah ada korelasi antara konsep dengan bahan. Dan Anusapati mengemas karyanya dengan sistematis.
 
“Kalau ada pohon atau bahan kayu enggak waton ngambil,” kata Rosyid yang ditemui di studio pameran itu. PITO AGUSTIN RUDIANA

Seni Ketoprak Kolaborasi

Ada Instalasi dalam Pentas Ketoprak
 
foto: pitogoestin
 TIDAK ada kursi singgasana yang empuk dan berukir. Tak ada pula empat kursi kayu tua yang disusun mengelilingi meja kecil dengan cangkir-cangkir kecil di atasnya. Suasana panggung pementasan ketoprak menjadi tak biasa pada malam lalu, Selasa (11/12/2012) malam. Panggung Taman Budaya Yogyakarta itu justru diisi dengan patung kerbau berukuran raksasa yang ngelesot menjadi latar belakang panggung dan dua patung tikus di depan samping panggung. Kerbau melambangkan rakyat yang mudah dicocok hidungnya dan tikus perlambang korupsi. Juga ada tumpukkan karung-karung goni di atas sebuah kotak yang menyimbolkan daerah pertanian. Tak ketinggalan susunan bambu yang dibuat bertingkat seperti menara sutet dengan asesoris aneka perabotan dapur yang digantung pada setiap sudut bambu.
 Itu baru kolaborasi dua bentuk seni: ketoprak dan seni instalasi dari Wayang MILEHNIUMWAE. Saat pementasan ketoprak berlangsung, barulah ketahuan ada yang berbeda dalam tata musik. Tiap kali gamelan akan ditabuh, seorang wiyaga akan memulai dengan aba-aba berupa syair lagu dari mulutnya. Peran kelompok seni suara Acapella Mataraman bisa dirasakan kehadirannya di sana.
 “Ini eksperimen kami. Bagaimana ketoprak berkolaborasi dengan bentuk kesenian lain, biar tidak stagnan,” kata penulis naskah pementasan ketoprak kolaboratif yang mengusung lakon “Lebak 1848”, Bondan Nusantara saat ditemui usai pementasan.
 Lebak 1848 sendiri mengambil latar belakang zaman penjajahan colonial Belanda di Lebak, Banten pada 1848. Rakyat tak hanya ditindas oleh penjajah itu sendiri, melainkan juga perilaku penguasa di sana yang korup. Para bupati pun sudah ditulari virus korup tersebut. Rakyat diminta menyerahkan ternak-ternak mereka yang berupa kerbau, sapi, kambing, hingga bebek dan ayam demi bisa menjamu tamu bupati Lebak yang sesama bupati pula.
 Ada Max Havelaar yang menjadi asisten residen yang baru. Dia mempunyai janji untuk memberantas korupsi. Namun tetap tak ada perbaikan bagi rakyat. Bahkan rakyat yang melakukan perlawanan di bawah kepemimpinan tokoh masyarakat bernama Karya pun harus mati meregang nyawa semua.
 Jika melihat sinopsis cerita, kening dibuat berkerut lantaran terlihat cerita yang serius. Namun saat menonton jalannya adegan demi adegan, penonton justru diajak menguras air mata karena kebanyakan tertawa. Boleh dibilang, 80 persen cerita berisi komedi. Dimulai dari adegan lawak dua bocah desa pada pembukaan pementasan. Adegan lawak yang selalu ada dalam setiap pementasan ketoprak maupun wayang. Dari situlah, presepsi penonton tentang lakon yang serius dibuat luruh. Lantaran adegan dialog bupati Lebak dengan istri mudanya juga tak luput dari komedi bergaya satire. Termasuk rayuan maut ki Demang terhadap Adinda, kekasih Saijah pun dibuat konyol. Begitupun dialog antara Max Havelaar sebagai asisten residen dengan Multatuli sebagai penulis bukunya. Keduanya saling sindir soal efektifitas pemberantasan korupsi yang dilakukan: menjadi asisten residen dan penulis. Namun sama-sama tak berdampak alias korupsi tetap merajalela.
 “Jas bukak iket blangkon. Sama juga sami mawon,” kata Max menyindir.
 
foto: pitogoestin
 Hanya 20 persen adegan yang serius dan berujung tragedi, yakni saat perlawanan Karya dan masyarakat melawan kumpeni Belanda. Semangat rakyat yang berkobar ditandai dengan instalasi berupa gunungan yang dibawa, diacungkan, dikibaskan warga. Gunungan sendiri merupakan piranti khas dalam pentas wayang kulit. Sayangnya, hanya separuh kursi yang terisi malam itu oleh penonton.
 Yang menarik, tak ada tokoh sentral laiknya pementasan ketoprak umumnya. Semuanya menjadi tokoh, baik bupati Lebak, ki Demang, Saijah dan Adinda, Max Havelaar dan Multatuli, juga adegan rakyat yang melawan.
 “Memang kami tiadakan pemeran utama, karena tokoh itu ya cerita tentang korupsi itu sendiri,” kata Bondan.
 Waktu persiapan yang hanya dua bulan dinilai Bondan tak cukup. Semestinya butuh waktu antara 4-5 bulan. Meski begitu, Kepala TBY Dyan Anggraini Rais menilai kolaborasi tersebut menjadi gebrakan untuk membangkitkan kembali kesenian ketoprak.
 “Ini terobosan karena membuat ketoprak tidak normatif. Jadi jangan takut lepas dari pakem, karena ini justru memperkaya berkesenian,” kata Dian. PITO AGUSTIN RUDIANA

Selasa, 26 Oktober 2010

Potret Erupsi Merapi I-2010

Yang Terluka, Berkorban, dan Tiada...

Korban awan panas/pitogoestin 26102010

Selasa, 26 Oktober 2010 petang. Episode pertama Merapi kembali erupsi. Adzan Maghrib terakhir didengarkan juru kunci Merapi, Mbah Maridjan. Usai itu, awan panas bergulung lima kilometer hingga Kinahrejo, kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman dan sekitarnya.



Korban awan panas/pitogoestin 26102010

Raungan sirine ambulans seolah tiada henti sepanjang Jalan Kaliurang hingga Rumah Sakit Umum Pusat Sardjito. Silih berganti mengantarkan pasien korban erupsi yang mengalami luka bakar. Mereka  berhasil ditemukan beberapa jam usai awan panas mengamuk. Mayoritas dari Kinahrejo.


Jenazah pertama/pitogoestin 26102010





Korban selamat langsung dilarikan ke Intalasi Gawat Darurat. Korban meninggal dunia dibawa ke ruang forensik. 







Jenazah Yuniawan/pitogoestin 26102010


Termasuk sebuah kantong mayat yang tiba tepat tengah malam. Ada nama Yuniawan di sana. Yuniawan Wahyu Nugroho, wartawan Vivanews,com yang ditemukan meninggal dunia di kediaman sang Juru Kunci. PITO AGUSTIN RUDIANA

Selasa, 01 Juni 2010

Potret Bunker Kaliadem


Persembunyian yang Kian Tersembunyi...




Bunker Kaliadem/pitogoestin 01062010

RABU, 14 Juni 2006 pagi. Bunker Kaliadem itu menjadi persinggahan terakhir bagi Warjono dan Suharwanto. Bunker berdinding tebal dan kokoh itu tak mampu melindungi dua relawan itu dari panas muntahan material dan awan panas dari perut Merapi.

Pintu masuk bunker/pitogoestin 01062010





Mayat Warjono tergeletak di dekat pintu masuk bunker yang saat itu tak sempat ditutup rapat. Mayat Suharwanto ditemukan di dalam bak air di salah satu bilik bunker.
Kamar mandi bunker/pitogoestin 01062010






Bunker, si saksi bisu itu sempat dibuka kembali untuk tempat wisata. Namun kini lenyap ditelan perut bumi. Usai Merapi meluapkan kembali isi perutnya, Selasa, 26 Oktober 2010, sore. Hingga kini masih dibiarkan terkubur menjadi harta karun di lereng Merapi.



Langit-langit bunker/pitogoestin 01062010


Foto ini diambil saat Merapi kembali menunjukkan tanda-tanda erupsi kembali pada 2010. Aparat tengah melakukan pengecekan kesiapan kondisi bunker, Selasa 1 Juni 2010. PITO AGUSTIN RUDIANA